Kamis, 15 Juni 2017 21:41 WIB

PBNU Khawatir Siswa Kelelahan

Editor : Yusuf Ibrahim
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy. (foto istimewa)

JAKARTA, Tigapilarnews.com- Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menunggu kontak komunikasi dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, terkait kebijakan sekolah seharian, delapan jam sehari lima hari sepekan, atau full day school.

"Belum ada kontak untuk pertemuan dengan PBNU," kata Ketua PBNU, Muhammad Sulton Fatoni, ditemui di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (15/06/2017).

Dia mengatakan PBNU menolak sedari awal konsep sekolah seharian digulirkan, yaitu sejak Muhadjir menjadi menteri di tahun 2016 yang menggantikan Anies Baswedan.

Kebijakan sekolah lima hari, kata dia, sama saja dengan "full day school" yang sempat diwacanakan Mendikbud. Sulton menegaskan PBNU terbuka kapan saja dengan Mendikbud jika ingin melakukan komunikasi soal sekolah seharian.

Menurut penuturannya, PBNU jarang dilibatkan dalam diskusi soal sekolah seharian meski ada kabar soal Lembaga Pendidikan Maarif NU yang dilibatkan dalam penggodokan kebijakan sekolah lima hari sepekan. "Tidak ada LP Maarif diikutkan dalam penggodokan tersebut," kata dia.

Dia mengatakan sistem pendidikan saat ini sejatinya sudah baik dengan enam hari masuk kelas. Jika dipaksakan dengan kebijakan sekolah harian maka siswa berpotensi kelelahan. Akibatnya, kata dia, hasil dari proses pendidikan tidak dapat tercapai dengan baik.(exe/ist))


0 Komentar