Minggu, 06 November 2016 15:17 WIB

Umat Islam Diingatkan Jangan Terpancing Buzzer Pro-Ahok

Editor : Rajaman
JAKARTA, Tigapilarnews.com - Praktisi Teknologi Informasi (IT), Ichwan Saychu mengingatkan para netizen muslim yang aktif di sosial media yang menuntut agar Gubernur DKI Basuki Tjahja Purnama (Ahok) diproses secara pidana lebih berhati-hati dalam memposting komentar-komentar, memei dan lainnya.

Dia melihat adanya orang kuat yang mendukung Ahok yang akan melakukan segala cara menggunakan segala macam instrumen untuk menjerat masyarakat anti Ahok secara hukum termasuk netizen.

“Saat ini nampaknya bahwa ada kekuasaan yang begitu hebatnya yang melindungi Ahok sehingga apapun akan digunakan untuk melindungi Ahok dan menghabisi semua lawan politik Ahok tidak terkecuali para netizen yang dianggap anti Ahok. Jadi berhati-hati tidak ada salahnya,” ujar Ichwan saat dihubungi, Minggu (6/11/2016).

Ichwan pun memberikan contoh betapa seorang Buni Yani dibuat seperti seorang pesakitan hanya karena membuang kata “pakai” saja oleh polisi, sementara di lain sisi Polisi selalu mencari-cari alasan untuk tidak memproses seorang Ahok yang menjadi sumber masalah saat ini dengan penistaan Al Quran yang dilakukan Ahok.

“Hanya karena menghilangkan kata “pakai”, Buni Yani pun langsung diproses. Padahal dihilangkan atau tidak kata itu tidak menghilangkan makna dari pernyataan Ahok. Bu Yani diproses tanpa pemerisaan saksi, ahli maupun lainnya. Sementara Ahok, saksi sudah banyak, bukti ada tapi tidak juga diproses bahkan meski sudah dilakukan demo terbesar sepanjang sejarah. Langkah menyalahkan Buni Yani ini juga didukung oleh media-media main stream pro-Ahok,” tambahnya.

Dia pun mengingatkan agar umat Islam utamanya yang mengikuti aksi damai pada 4 November lalu untuk tidak terpancing atau mau diprovokasi oleh pernyataan-pernyataan para pendukung Ahok khususnya di sosial media yang mencoba memutarbalikkan fakta. Masyarakat harus yakin bahwa suara pendukung Ahok di sosial media bukanlah suara sesugguhnya yang mewakili rakyat, tapi kebanyakan hanya suara-suara pesanan.

“Mereka memutarbalikkan fakta dan mencoba memojokkan umat Islam yang melakukan aksi damai seolah adalah demonstran bayaran, perusak taman, perusuh dan lain-lain.Ini mereka sengaja memancing emosi tapi jangan terprovokasi karena sebenarnya kebanyakan dari pendukung Ahok di sosial media adalah orang-orang bayaran atau buzzer yang panik dengan reaksi umat islam saat ini. Saya jamin mereka tidak mau panas-panasan seperti halnya pendemo yang sabar apalagi datang dengan biaya sendiri. Mereka duduk dibelakang komputer saja dibayar kok,” imbuhnya.

Para pendukung Ahok boleh kelihatan banyak di sosial media, tapi menurut Ichwan sebenarnya Ahok tidak memiliki pendukung riil yang signifikan yang bisa mengalahkan jumlah orang yang tidak menyukainya seperti yang diperlihatkan aksi damai.

”Itu yang kerja robot kebanyakan robot, mesin. Satu orang bisa pegang belasan atau puluhan akun sosmed. Mereka tidak ril, hanya ramai di sosmed dan klaim saja,” tegasnya.

Bahkan menurutnya saat ini kelihatan dengan jelas seorang Habieb Rizieq yang kerap mereka hina memiliki pendukug riil yang jauh lebih banyak dari Ahok yang hanya mengklaim memiliki pendukung 1 juta di Jakarta. Para pendukung Ahok tidak pernah memperlihatkan diri di dunia nyata dan melakukan aksi bela Ahok karena mereka memang tidak banyak jumlahnya.

”Kelihatan kan pas demo kemarin puluhan ormas Islam dengan jutaan pendukungnya hadir secara nyata bersama rakyat, termasuk anggota ormas FPI pimpinan Habieb Rizieq.Ini riil. Coba sekarang para pendukung Ahok buktikan kan katanya ada 1 juta orang yang mendukung dan ada 4 partai yang mendukung untuk lakukan aksi demo bela Ahok. Bisa terkumpul 500 orang saja di Bundara HI sudah top banget.Saya yakin juga banyak kader partai pendukung yang tidak suka Ahok,” jelasnya.

Terakhir dia pun menghimbau para netizen untuk tidak terprovokasi oleh media-media main stream yang memang sejak awal sudah berpihak.

”Media main stream dan penguasa rasanya juga sudah bingung karena makin banyak media anti main stream yang dijadikan sumber berita oleh masyarakat yang tidak lagi mempercayai media main stream.Makanya ada langkah penguasa memblokir media ini dengan pernyataan situs SARA,” tandasnya.
0 Komentar