Minggu, 19 Juni 2016 12:31 WIB

Kelebihan Bubur Kuning di Kampung Arab Terus Diminati

Editor : Yusuf Ibrahim

Laporan Yanti Marbun


JAKARTA, Tigapilarnews.com- Ada banyak pilihan menu untuk berbuka puasa di bulan Ramadhan.


Sayangnya, tidak semua yang terlihat enak untuk disantap, memberikan dampak yang menyehatkan. Tapi kesan enak, sehat dan bergizi tinggi, bisa langsung didapat sekalipun baru melihat jenis panganan bubur kuning.


Selain nyaris sulit ditemui di luar Ramadhan, bubur ini tidak seperti biasanya. Salah satu makanan asli dari Arab Saudi ini, nampaknya hanya bisa dinikmati di Kampung Arab, Pekojan, Tambora, Jakarta Barat.


Umi Sundus (65), salah satu warga Kampung Arab Pekojan yang masih setia membuatkan bubur kuning bagi warga yang berbuka puasa di Masjid An-Nawier. Dia ingat betul segala bahan dan pembuatan bubur, lantaran diajarkan oleh mertuanya.


Bubur kuning ini terbuat dari bahan utama beras, santan, dan potongan-potongan daging besar kambing. Adapun bumbu yang dicampurkan ke dalam bubur adalah lada, ketumbar, jintan, jahe, bawangg putih, bawang merah, kunyit, bawang bombay, tomat, kayu manis dan cengkeh. Bahan-bahan itu diulek dengan kasar lalu dicampurkan ke dalam bubur. Daging kambing dimasak terpisah, setelah empuk baru dimasukkan ke dalam adonan


Bubur kuning disajikan dengan taburan bawang goreng di atasnya. Aroma rempah-rempah merebak saat bubur hangat dituangkan dari panci besar ke dalam piring. Rasanya gurih, wangi rempah, dan sedikit berlemak karena potongan-potongan daging kambing


"Zaman sekarang anak-anak muda pasti akan sangat sulit untuk membuat bubur kuning ini. Mereka lebih menyukai yang instan, karena memang proses pembuatan bubur kuning sendiri sangat lama. Apalagi, untuk jumlah porsi yang sangat banyak," begitu katanya sambil tertawa.


Dikky Bashandid (35), anak dari Umi Sundus, mengatakan bahwa rasa dari bubur kuning di Pekojan ini sudah bercampur dengan cita rasa atau lidah orang Indonesia. Sebab Warga Pekojan sekarang, bukan orang-orang Arab saja, melainkan sudah ada percampuran warga Tionghoa dan pribumi


"Kalau bubur khas Arab namanya Shurba. Bahan dasarnya bukan beras seperti biasanya, tapi beras dari Arab. Selain itu juga, rasa kambingnya tentu lebih pekat. Kalau yang kita buat ini, rasa buburnya sudah menyesuaikan lidah berbagai etnis," Tutur Dikky, Minggu, (19/06/2016)


Seorang warga keturunan campuran etnis Arab dan Tionghua lainnya, Hartono (60), menjelaskan dengan menghadirkan kembali bubur Kuning saat berbuka puasa sangatlah spesial.


Menurutnya, selain dari sudut pandang agama mendapatkan pahala karena memberi makanan orang yang sedang berpuasa, namun di sisi kebudayaan, ini dapat mempertahankan warisan yang dimiliki sejak zaman nenek moyang dan berharap bisa diajarkan kepada anak-anak muda sekarang


"Saya sangat berharap, ada generasi muda yang tergerak hatinya untuk dapat belajar membuat bubur kuning ini. Saya dulu pernah tinggal di sini, lalu pindah, sekarang balik lagi ke sini. Memang bubur ini sudah jarang ditemukan saat Ramadhan,"ungkapnya


Selain itu, Lurah Pekojan, Tri Prasetyo, menuturkan Pekojan sudah terkenal menjadi kawasan bersejarah dan wisata religi. Ia berharap, warisan kebudayaan seperti kuliner khas Arab bisa dilestarikan. Ia juga ingin kuliner itu bisa dipasarkan kepada wisatawan saat bertandang ke Pekojan.


"Kita sedang mencari lahan kosong yang bisa dimanfaatkan untuk berjualan kuliner khas Kampung Arab. Kami juga ingin memasarkan oleh-oleh dan cinderamata khas kampung ini," tutupnya.


Sekadar informasi, kawasan itu ditetapkan sebagai Kampung Arab oleh Pemerintah Belanda, sekitar pada abad ke-18. Meski saat ini warga keturunan Arab tinggal 25 persen dari total penduduk Pekojan, mereka tetap memegang teguh tradisi leluhurnya.(exe)


0 Komentar