Jumat, 13 Desember 2019 11:47 WIB

Digitalisasi Pertanian Jadi Kebutuhan Pasar

Editor : Eggi Paksha
Ilustrasi. (foto istimewa)

JAKARTA, Tigapilarnews.com- International Fund for Agricultural Development (IFAD) mendorong pemerintah terus meningkatkan digitalisasi sistem pertanian di dalam negeri.

Melalui digitalisasi pertanian diharapkan memudahkan para petani dan menyejahterakan petani Indonesia. “Digitalisasi pertanian telah menjadi kebutuhan pasar. Dengan digitalisasi petani dapat mendeteksi apa yang dibutuhkan tanaman,” ujar Chairman of IFAD Iskandar Andi Nuhung di acara diskusi Pembangunan Pertanian di Era 4.0, di Jakarta, kemarin.

Menurut dia bentuk digitalisasi sistem pertanian beragam dan terus dikembangkan. Beberapa aspek digitalisasi pertanian antara lain penerapan teknologi pertanian yang mutakhir, penerapan aplikasi pertanian hingga pengelolaan sistem data pertanian di sebuah wilayah.

Terkait penerapan teknologi, misalnya dulu petani menggunakan kerbau atau sapi untuk membajak sawah, kemudian beralih menggunakan traktor. “Dengan perubahan teknologi tersebut maka petani menggarap sawah lebih cepat dan efisien,” ujar dia.

Di era digital juga akan menciptakan banyak aplikasi baru dalam dunia pertanian seperti melakukan transaksi penjualan hasil pertanian secara langsung kepada pembeli melalui aplikasi. Saat ini, digitalisasi yang juga dikembangkan Telkom dengan membangun platform yang berisi data petani, luas lahan hingga rencana tanam serta data lainnya.

“Dengan platform tersebut maka dapat di deteksi berbagai macam kelemahan di lapangan dengan mudah sehingga cepat mendapatkan solusi untuk meningkatkan produk tani,” jelasnya.

Perwakilan Industri Perlindungan Tanaman dan Perbenihan, Midzon Johannis menyampaikan bahwa saat ini juga telah berkembang teknologi pertanian dengan menggunakan pesawat tanpa awak atau drone. Pemakaian drone tersebut digunakan untuk menebar pestisida khususnya di bagi petani di Cikampek. “Penggunaan aplikasi drone ini mampu meningkatkan produksi,” jelasnya.

Dia mengatakan digitalisasi pertanina memang merupakan tuntutan zaman guna meningkatkan produksi pertanian di dalam negeri. Apalagi berdasarkan laporan Asia Food Challenge Report, negara-negara di Benua Asia bakal mengalami krisis pangan dalam 10 tahun ke depan.

Tantangan yang dihadapi ini membuat produktivitas tanaman terus menurun. Pihaknya mengambil contoh produksi jagung yang hanya mencapai rata-rata 5,7 juta ton per hektar.

Sementara di Amerika Serikat dengan luas lahan yang sama bisa mencapai rata-rata 10,5 juta ton. Disisi lain, mayoritas petani Indonesia adalah petani gurem dengan luas lahan garapan kurang dari 0,5 hektar dengan jumlah sekitar 57% dari total petani di Indonesia.

“Tantangan yang dihadapi petani memang tidak mudah. Apalagi jumlah penduduk kita terus bertambah, sehingga kebutuhannya pun terus meningkat. Sebab itu perlu terobosan termasuk menerapkan digitalisasi dibarengi dengan membangun SDM yang mumpuni,” ujarnya.(ist)


0 Komentar