Rabu, 04 Desember 2019 13:08 WIB

Enam Mata Uang Utama Melemah

Editor : Eggi Paksha
Ilustrasi uang rupiah. (foto istimewa)

JAKARTA, Tigailarnews.com- Pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bahwa kesepakatan dagang dengan China harus menunggu setelah Pemilu AS, November 2020, menambah ketidakpastian dagang global.

Ini berdampak terhadap pasar negara-negara berkembang. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi I perdagangan Rabu (4/12/2019) semakin lemah, dengan jatuh 27,53 poin atau 0,45% ke level 6.106,37.

Sesi pembukaan, IHSG langsung berbalik dengan turun 12,56 poin atau 0,20% ke posisi 6.121,33. Seluruh atau 10 indeks sektoral memerah. Sektor industri dasar memimpin penurunan tertinggi dengan jatuh 0,69%.

Dari 565 saham yang diperdagangkan, 266 melemah, 169 stagnan, dan 130 naik. Nilai transaksi saham Rp3,32 triliun dari 5,43 miliar unit saham. Transaksi bersih asing -Rp142,94 miliar, dengan aksi jual asing Rp829,41 miliar dan aksi beli asing Rp686,47 miliar.

Senada dengan IHSG, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada sesi I Rabu (4/12/2019) juga melemah. Data Bloomberg mencatat rupiah terkoreksi 5 poin atau 0,04% menjadi Rp14.120 per USD, dibanding penutupan Selasa lalu di Rp14.115 per USD.

Begitupula dengan data Yahoo Finance yang mencatat rupiah rugi 20 poin atau 0,14% menjadi Rp14.120 per USD, dibandingkan posisi Rp14.100 per USD pada Selasa kemarin.

"Pernyataan Trump soal "tidak memiliki deadline" untuk perjanjian dengan China telah melemahkan sentimen pasar keuangan. Karena gesekan perdagangan dapat makin melemahkan perekonomian global," ujar Takuya Kanda, general manager Gaitame.com Research Institute di Tokyo.

Investor pun memilih melepas dolar AS dan membeli mata uang Jepang dan Swiss, selama masa ketidakpastian ini. Melansir dari CNBC, Rabu (4/12/2019), indeks USD terhadap enam mata uang utama pada siang ini melemah ke 97,736. Yen Jepang diperdagangkan di 108,54, mendekati level terkuat kemarin di 109,2.(ist)


0 Komentar