Selasa, 29 Oktober 2019 12:37 WIB

PDIP Balas "Serangan" Demokrat ke Megawati

Editor : Eggi Paksha
AHY (kiri) dan Megawati. (foto istimewa)

JAKARTA, Tigapilarnews.com- PDIP menegaskan tudingan Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Demokrat Andi Arief kepada Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri atas gagalnya putera sulung Ketum Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) masuk ke dalam Kabinet Indonesia Maju Joko Widodo (Jokowi) dan Maruf Amin, dinilai salah alamat.

"Ya menurut saya yang pertama itu, letakanlah segala sesuatu sebagaimana porsinya. Jangan Andi Arief main politik asal bunyi, tidak beretika. Karena apa? Dalam konstruksi konstitusi kita, pemilihan menteri itu wewenang penuh prerogatif presiden, sehingga tidak ada hubungan dengan Ibu Mega. Itu yang pertama," kata Ketua DPP PDIP Said Abdullan, di Jakarta, Minggu (27/10/2019).

Kemudian Said melanjutkan, seharusnya Andi Arief juga mengingat masa-masa manis ketika AHY dan adiknya Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) datang ke kediaman Mega di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta beberapa waktu lalu, dan disambut manis oleh Mega dan puterinya Puan Maharani. Bahkan, berswafoto bersama.

Menurut Said, momentum tersebut merupakan sebuah kehormatan bagi AHY dan Ibas dan di situlah semua perseturuan berakhir, sehingga tidak ada istilah dendam atau apapun.

"Tiba-tiba hari ini ketika Demokrat tidak masuk satupun di koalisi katakanlah di kabinet pemerintahan Jokowi, tembakan diarahkan ke ibu Mega. Itu saya sangat menyayangkan pernyataan itu," ujar Said.

Mantan Pimpinan Badan Anggaran (Banggar) DPR ini menilai, pernyataan Andi Arief itu justru menunjukkan sikap tidak legawa terhdap posisi yang diambil oleh Presiden. Bahkan, Andi Arief salah sasaran dengan menembakkan itu ke Ketum PDIP.

"Cuma Andi Arief tidak nembak presiden justru nembaknya peluru ditembakkan ke Ibu Mega. Itu salah alamat," imbuhnya.

Said menegaskan, tidak mungkin bagi sosok seperti Megawawati yang merupakan seorang negarawan dan sudah makan asam garam politik Indonesia, dituding masih menyimpan dendam.

"Tidak ada itu, kami semua tidak ada itu. Berakhir sudah itu, enough is enough. Tak boleh lagi kita mengembangkan istilah dendam dan sebagainya," tegas Said.

Karena itu Said kembali mengingatkan, Andi Arief untuk kembali mengingat kemesraan AHY dan Ibas saat berkunjung ke kediaman Presiden RI ke-5 itu beberapa waktu lalu di mana saat itu terjadi pertemuan yang luar biasa.

Sehingga menurutnya, tidak mungkin ada hubungannya antara Mega dan kabinet baru Jokowi-Maruf. "Itu kan pertemuan yang luar biasa, momentum yang luar biasa, kemudian ditarik ke soal penyusunan kabinet, Ibu Mega yang dijadikan kambing hitam," jelasnya.

"Lho di mana? Tidak boleh dong. Ayolah kita sama-sama mawas diri mengedepankan etika dalam berpolitik sehingga tidak perlu membuat kegaduhan baru. Itu menurut saya sih,” tandasnya.(sndo)


0 Komentar