Selasa, 15 Oktober 2019 15:28 WIB

Katarak Jadi Penyebab Kebutaan Tertinggi

Editor : Eggi Paksha
Pemeriksaan katarak. (foto istimewa)

JAKARTA, Tigapilarnews.com- Hasil Survei Kebutaan Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) tahun 2014—2016 oleh Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) dan Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan di 15 provinsi (Sumatera Barat, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku dan Papua Barat) diketahui angka kebutaan mencapai 3% dan katarak merupakan penyebab kebutaan tertinggi sebesar 81%.

Survei tersebut dilakukan dengan sasaran populasi usia 50 tahun ke atas. ''Saat ini kurang lebih 90% ganggguan penglihatan terdapat di wilayah penduduk berpenghasilan rendah, 82% kebutan terjadi pada usia 50 tahun atau lebih.

Sebenarnya 80% gangguan penglihatan termasuk kebutaan dapat dicegah dan ditangani,'' kata Ketua PP Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) dr. M. Siddik, Sp. M.

Diperkirakan pengeluaran rata-rata per pasien yang mengalami kebutaan adalah hampir dua kali lipat dari biaya lainnya. Sementara, untuk buta dengan dua mata diperkirakan akan mengeluarkan biaya berkisar USD12.175—14.029 atau sekitar Rp170—196 juta. Belum lagi ditambah dengan biaya tidak langsung yang cukup besar karena kerugian produktivitas.

Jika dibiarka, rawan terjadi tsunami katarak. Dr. Siddik menjelaskan, tsunami katarak adalah bahwa dengan bertambahnya Usia Harapan Hidup (UHH) diperkirakan pada tahun 2030 itu semua pendudk di atas usia 50 tahun akan banyak, sekitar 25%.

''Itu usia dimana seseorang rawan menderita katarak. Jadi jumlah penderita katarak pasti bertambah banyak,'' ucapnya.

Tren umur harapan hidup Indonesia terus meningkat secara siginifikan. Rata-rata UHH meningkat dari usia 63 tahun pada 1990 menjadi 69 tahun pada tahun 2017. Ini artinya peningkatan usia harapan hidup akan berdampak pada peningkatan penyakit penyakit degeneratif. Dampaknya akan terjadi peningkatan kasus katarak, dan gangguan penglihatan lainnya yang diakibatkan oleh penyakit degeneratif seperti diabetes melitus dan glaukoma.

Gangguan penglihatan bisa menyerang semua umur termasuk bayi dan balita. Mereka merupakan salah satu kelompok berisiko terhadap gangguan penglihatan, karena ini perlu meningkatkan kepedulian terhadap ancaman gangguan penglihatan terutama kebutaan yang dapat dicegah. Skrining dan deteksi dini kunci utama menemukan kasus sedini mungkin dengan intervensi yang tepat.

Selain itu, keberadaan gawai diasumsikan menambah penderita myopia mata minus. Hal tersebut diakibatkan karena jarak penglihatan ke gawai terlalu dekat dan terus-menerus sehingga kesehatan mata berkurang. Hal serupa juga rawan terjadi pada seseorang yang bekerja di depan komputer. Dr. Siddik menganjurkan dalam menggunakan komputer gunakan rumus 20 20 20, artinya 20 menit bekerja, 20 menit istirahat sambil melihat benda dengan jarak 20 kaki (6 meter).

"Gangguan penglihatan dengan penyebab lainnya seperti glaukoma, retinopati, dianetikum, retinopathy of prematurity (ROP) dan low vision menjadi prioritas program Kemenkes saat ini. Glaukoma dan retinopati dijadikan prioritas mengingat meningkatnya angka penyandang diabetes," papar Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, dr. Anung Sugihantono.

Diperkirakan 1 dari 3 penderita diabetes berisiko terkena retinopati diabetikum, dan pasien dengan diabetes memiliki risiko 25 kali lebih mudah mengalami kebutaan akibat retinopati. Penyakit-penyakit tidak menular merupakan salah satu faktor risiko gangguan penglihatan dan kebutaan.

''Pemerintah terus melakukan edukasi kepada masyarakat terhadap pencegahan gangguan penglihatan (katarak), juga deteksi dini di fasyankes (Fasilitas Layanan Kesehatan) primer terintegrasi dengan penyakit tidak menular lainnya,'' kata Dirjen Anung.(ist)


0 Komentar