Selasa, 11 Juni 2019 16:41 WIB

Menkeu Sri Jelaskan soal Patok Tinggi Pertumbuhan Ekonomi

Editor : Eggi Paksha
Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati. (foto istimewa)

JAKARTA, Tigapilarnews.com- Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati, telah mengusulkan pertumbuhan ekonomi dalam asumsi makro Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2020 sebesar 5,3-5,6%.

Hal ini ketika risiko penurunan pertumbuhan ekonomi global semakin nyata akibat dampak tingginya intensitas perang perdagangan Amerika Serikat (AS) dan China.

Menkeu menjelaskan, asumsi tersebut tetap dipatok tinggi atau di atas pertumbuhan ekonomi dalam asumsi makro RAPBN 2018 yang sebesar 5,4% karena potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tinggi.

Meski di tengah kondisi pertumbuhan ekonomi global yang terus dipangkas oleh lembaga internasional seperti World Bank, IMF hingga OECD.

"Mengenai asumsi pertumbuhan ekonomi tahun 2020 sebesar 5,3 persen sampai 5,6 persen, pemerintah berpendapat perlunya sukap kehati-hatian namun panting untuk menjaga optimisme yang terukur," kata Sri Mulyani di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (11/6/2019).

Secara spesifik, dia mengutarakan, perkiraan batas bawah yang sebesar 5,3% menunjukkan risiko global yang meningkat. Sedangkan, perkiraan proyeksi batas atas yang sebesar 5,6% menunjukkan potensi pertumbuhan ekonomi apabila semua unsur penyumbang pertumbuhan dapat diwujudkan. 

"Landasan perkiraan pertumbuhan tersebut adalah terjaganya pertumbuhan konsumsi, investasi dan eskpor dengan dukungan belanja pemerintah secara proporsional," tuturnya.

Dia memastikan, konsumsi akan dijaga melalui Inflasi pada tingkat yang rendah terkendali untuk menjaga daya beli masyarakat, serta program bantuan sosial yang komprehensif untuk mendorong pemerataan pendapatan dan pemenuhan kebutuhan masyarakat terutama yang berpenghasilan rendah. 

Sementara itu, investasi terus ditingkatkan melalui perbaikan dan penyederhanaan regulasi, perbaikan iklim investasi dan pemberian fasilitasi investasi dan promosi investasi. Namun pemerintah waspada dengan gejolak arus modal global seperti yang terjadi pada 2018 yang berpotensi melemahkan investasi.

"Sementara itu, untuk mendukung peningkatan pertumbuhan ekspor akan diupayakan melalui kerja sama perdagangan bilateral, seperti dengan Afrika, Eropa Timur, Timur Tengah, dan Asia Tengah," tandasnya.(exe)


0 Komentar