Senin, 29 April 2019 11:10 WIB

MCM Diminta Bantu Perekonomian Rakyat dan Persatuan Indonesia

Editor : Eggi Paksha
Pengurus Besar Masyarakat Cinta Masjid (PB MCM) bersama para relawan. (foto Esa/Tigapilarnews.com)

JAKARTA, Tigapilarnews.com- Pengurus Besar Masyarakat Cinta Masjid (PB MCM) menggelar doa dan syukuran atas terlaksananya pemilihan umum 2019 yang damai dan aman.

Ketua Dewan Pembina Masyarakat Cinta Masjid (MCM) Indonesia, Budi Karya Sumadi, buka suara terkait hasil pemilihan presiden 2019. Diakui dirinya bahwa ada permintaan untuk melakukan rekonsiliasi, dikarenakan tidak ingin jemawa terkait keunggulan sementara.

"Benar bahwa kita diminta untuk melakukan rekonsiliasi. Artinya kita tidak perlu jemawa. Kita melakukan suatu persuasi. Agar ke depan kita bicara tentang Indonesia yang satu. Indonesia yang kita harapkan bisa memberikan kehidupan bagi orang banyak," ujar Budi Karya Sumardi dalam acara doa dan syukuran terlaksananya pemilu 2019 damai di MCM Center, jalan Widya Candra, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (28/4/2019).

Di hadapan anggota MCM, Budi Karya Sumardi menyebut perjuangan mengawal Pemilu 2019 belum selesai. Dia kemudian menceritakan alasannya 'ngotot' untuk membantu kemenangan pasangan presiden dan wakil presiden nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi) dan Ma'ruf Amin.

"Istri saya suka nanya, kamu kok ngotot banget sih memperjuangkan ini? Saya bilang, ini adalah suatu momen di mana Indonesia digoda oleh suatu paham yang bisa meruntuhkan Pancasila. Kita dirong-rong oleh cara-cara yang yang tidak adil, sangat membuat moral-moral bangsa ini banyak yang runtuh. Oleh karena itu kita memang memberikan dukungan kepada Jokowi-Amin dalam rangka mengamankan bahwa apa-apa yang menjadi hal-hal keragaman Pancasila dan sebagainya itu berjalan dengan baik," tuturnya.

Tidak lupa dirinya juga berpesan kepada seluruh relawan MCM untuk kreatif dalam kegiataan perekonomian. Apalagi pemerintah saat ini memiliki program-program yang membantu perekonomian rakyat.

"Kita harus kreatif pada kegiatan-kegiatan perekonomian. OJK punya program, BI punya program, kementerian keuangan punya program, Menteri Keuangan juga punya program yang ditujukan untuk pinjaman ibu-ibu. Memang jumlahnya tidak banyak hanya 2 juta rupiah, atau yang paling banyak 8 juta rupiah, dan mereka begitu sangat antusias karena memang itu menghidupi umat," jelasnya.

Sementara itu, Ketua Umum MCM, Wishnu Dewanto menyebut jika syukuran ini digelar dalam rangka mewujudkan serta mengekspresikan rasa syukur kita atas lancarnya gelaran Pemilu 2019 pada 17 April 2019 lalu. "Selain itu syukuran ini bisa memberi efek agar semua pihak tidak berpikir kotor terkait kinerja KPU dalam pelaksanaan dan rekapitulasi hasil pemilu ini," jelas Wishnu.

MCM mengingatkan agar masyarakat memberi kesempatan kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) memastikan proses pemilu kali ini memenuhi unsur jujur dan adil (jurdil).

Wishnu menambahkan, syukuran serta doa ini menunjukkan bahwa tegaknya ideologi pancasila sebagai ideologi bangsa, ini adalah kemenangan bagi rakyat, rakyat masih sangat membutuhkan pancasila dan inilah yang harus kita harapkan dan bagi proses hasil pemilu, kita meminta semua pihak agar menahan diri untuk mengikuti proses dan ketentuan yang ada dengan cara-cara yang pancasilais, karena pancasila tidak hanya sebagai ideologi saja, akan tetapi pancasila sebagai sumber dari segala sumber. Wisnu berharap seluruh pihak menunggu hasil resmi KPU dan siapapun yang nantinya menang dapat membawa persatuan bangsa.

Wishnu meminta kepada para relawan Jokowi-Ma'ruf Amin, yang terdiri dari Relawan Kita Satu, Relawan Alumni UI, Relawan Alumni UGM, Relawan Alumni ITB, Relawan Alumni IPB, Relawan Alumni Pancasila, Relawan Alumni UBK, DPP Pemuda Bravo 5, Pemuda Pancasila DKI Jakarta, Relawan Alumni SMA Jakarta Bersatu, Relawan Pesepeda Bersatu, Relawan PROJOMAC, Perwakilan Khotib Jumat DKI, RelawanAir Crew for 01, dan Relawan 1st Voters, dapat membantu untuk menyudahi pemikiran kotor yang melemahkan KPU serta klaim-klaim yang menjerumuskan.

"Biarkan KPU bekerja secara konstitusional agar menghasilkan sebuah keputusan yang konstitusional. Saat ini tidak ada yang namanya 01 atau 02, yang ada saat ini adalah 03 yaitu Persatuan Indonesia," terang Wisnu.(exe)


0 Komentar