Rabu, 14 November 2018 12:27 WIB

Mohammad bin Salman Bujuk Netanyahu Gempur Gaza

Editor : Eggi Paksha
Pangeran Mahkota Arab Saudi, Mohammad bin Salman (MBS). (foto istimewa)

JAKARTA, Tigapilarnews.com- Pangeran Mahkota Arab Saudi, Mohammad bin Salman (MBS) dilaporkan membujuk Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk memulai konflik dengan Hamas di Jalur Gaza.

Ini dilakukan untuk mengalihkan perhatian dari pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi. Hal itu diungkapkan oleh sumber-sumber di dalam pemerintahan Arab Saudi kepada Middle East Eye (MEE).

Menurut sumber itu, perang di Gaza berada di antara berbagai langkah dan skenario yang diajukan oleh gugus tugas darurat yang dibentuk untuk meredam bocornya pembunuhan terhadap Khashoggi yang datang dari Turki.  

"Gugus tugas, yang terdiri dari pejabat dari istana kerajaan, kementerian luar negeri dan pertahanan, dan dinas intelijen, memberi arahan kepada putra mahkota setiap enam jam," katanya seperti dikutip dari MEE, Rabu (14/11/2018).

Gugus tugas ini menyarankan MBS bahwa perang di Gaza akan mengalihkan perhatian Trump dan memfokuskan kembali perhatian Washington pada peran Arab Saudi dalam memperkuat kepentingan strategis Israel.

Arab Saudi dan Israel dianggap memiliki hubungan rahasia yang semakin dekat. Ini didorong oleh permusuhan keduaya dengan Iran, dan MBS menjadi pemain kunci dalam upaya untuk menjual rencana perdamaian "Kesepakatan Abad Ini" Trump untuk Israel dan Palestina kepada para pemimpin regional.

Khashoggi dibunuh secara brutal di konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober, dalam sebuah operasi yang dipercaya oleh pemerintah Turki dilakukan oleh pasukan pembunuh yang anggota-anggotanya terdiri dari beberapa anggota pengawal pribadi bin Salman.

Namun para pejabat Saudi telah membantah bahwa putra mahkota memiliki "pengetahuan apa pun" tentang pembunuhan Khashoggi.

Sementara pembunuhan Khashoggi dikecam oleh banyak para pemimpin dunia, Netanyahu awal bulan ini mengatakan: "Sangat penting bagi stabilitas kawasan dan dunia bahwa Arab Saudi tetap stabil."

Dua minggu setelah pembunuhan itu, sumber-sumber pemerintah Saudi juga mencatat perubahan nada suara secara tiba-tiba dalam pernyataan Netanyahu tentang Hamas selama negosiasi dengan Qatar yang bertujuan meredakan blokade di Jalur Gaza.

Dalam sidang kabinet pada 14 Oktober, Netanyahu mengatakan: "Kami sangat dekat dengan jenis kegiatan yang berbeda, suatu kegiatan yang akan mencakup pukulan yang sangat kuat. Jika itu masuk akal, Hamas akan berhenti menembak dan menghentikan gangguan kekerasan ini, sekarang."

Demikian pula, Israel dan Qatar baru saja mencapai kesepakatan untuk mengizinkan dana masuk ke wilayah yang diblokade itu dan membayar gaji para pekerja pemerintah Hamas, ketika serangan pasukan khusus Israel Minggu malam gagal, serangan yang memiliki izin politik, terjadi di Khan Younis.

Hamas kemudian meluncurkan ratusan roket ke Israel selatan, dan Israel meluncurkan serangan udara di Gaza dengan setidaknya 15 orang Palestina dan satu Israel tewas dalam baku tembak paling serius sejak 2014.

Berbicara pada hari Minggu sebelum serangan itu, Netanyahu mengatakan bahwa dia melakukan semua yang bisa dilakukannya untuk menghindari perang yang tidak perlu di Gaza.

"Saya tidak takut perang jika itu perlu, tetapi saya ingin menghindarinya jika itu tidak perlu," katanya.

MEE tidak dapat secara independen mengkonfirmasi apakah serangan Israel ke Gaza dipengaruhi oleh seruan bin Salman kepada Netanyahu.(exe/ist)


0 Komentar