Jumat, 12 Oktober 2018 11:39 WIB

Serangan Prabowo Terhadap Pemerintah Jokowi Diyakini akan Dapatkan Serangan Balik dari Rakyat

Editor : Eggi Paksha
Prabowo Subianto. (foto istimewa)

JAKARTA, Tigapilarnews.com- Pernyataan calon presiden Prabowo Subianto yang menyebut sistem ekonomi Indonesia saat ini melebihi neoliberal dipandang bukan sebagai evaluasi kritis melainkan cenderung utopis. 

Terlebih, pernyataan "Make Indonesia Great Again" yang diucapkan Prabowo meniru slogan Presiden Donald Trump saat kampanye sebagai capres Amerika Serikat.

Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan Jokowi-KH. Ma'ruf Amin, Hasto Kristiyanto menilai pernyataan Prabowo yang menyebut Indonesia sedang mempraktikkan ekonomi kebodohan sebagai klaim sepihak. 

Menurut Hasto, sejarah reformasi lahir sebagai koreksi atas sistem yang otoriter ketika ekonomi kekuasaan saat itu hanya didominasi kroni Soeharto. "Pak Prabowo seharusnya paham hal ini," kata Hasto dalam siaran persnya, Jumat (12/10/2018).

Dia menjelaskan, saat itu ekonomi kekuasaan ditopang oleh sistem otoriter. Dalam sistem itu mereka yang kritis dipenjara, bahkan diculik dan terkadang dimusnahkan. 

Ketika terjadi krisis, kedaulatan negara digadaikan melalui Letter of Intent IMF, dan seharusnya, kata dia, Prabowo memahami hal ini dan segala akibatnya tidak bisa cuci tangan. 

"Kami akan siap berdebat sekiranya yang disampaikan adalah konsepsi ekonomi Indonesia yang sesuai konstitusi yang selama ini terus diperjuangkan oleh Pak Jokowi," ujarnya.

Hasto memandang keadaan ekonomi Indonesia saat ini dampak dari 32 tahun kekuasaan ekonomi yang "menguntungkan" kroni penguasa saat itu. Sehingga, serangan Prabowo terhadap Pemerintah Jokowi akan mendapatkan serangan balik dari rakyat. 

"Sebab pernyataan Pak Prabowo tersebut sama saja dengan menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri," ungkap Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini.

Dalam pribahasa, Menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri artinya melakukan sesuatu perbuatan yang memalukan nama baik sendiri.

Hasto mengaku sangat tidak rela sistem ekonomi saat ini disebut ekonomi kebodohan dan pada saat yang sama beretorika tentang "Make Indonesia Great Again". 

Dia menganggap, serangan ekonomi kebodohan Prabowo semakin menunjukkan capres nomor urut 02 itu lupa dengan sejarah, lalu menimpakan hal tersebut sebagai kesalahan Presiden Jokowi. 

"Inilah contoh dari kebodohan itu sendiri. Capres negarawan seharusnya menyampaikan narasi positif untuk Indonesia Raya, bukan malah merendahkan martabat bangsa dan rakyatnya sendiri, dengan membodoh-bodohkan ekonomi bangsanya," ucap dia.

Sebaliknya, lanjut Hasto, tindakan membangun infrastruktur secara masif, jaminan sistem kesehatan nasional, sertifikasi tanah rakyat, program kerakyatan melalui Kartu Indonesia Sehat dan Indonesia Pintar; pengambilalihan Freeport, Blok Rokan dan Blok Mahakam serta berbagai prestasi lainnya, bukanlah kebodohan yang dilakukan Pemerintah Jokowi. 

Tindakan tersebut dianggap sebagai cermin kepemimpinan Jokowi yang lahir dari "rahim" dan kehendak rakyat.

"Bagi kami, banteng-banteng PDI Perjuangan, konsepsi ekonomi Pak Jokowi justru mencerdaskan bangsa. Hanya orang-orang yang tertutup mata hatinya yang melihat segala sesuatu dari perspektif negatif," tuturnya. 

Prabowo saat hadir dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), di Pondok Gede, Jakarta Timur, Kamis 11 Oktober 2018 menyebut sistem ekonomi yang dijalankan Indonesia saat ini lebih parah dari neoliberalisme. 

Dia menilai kesenjangan ekonomi Indonesia saat ini sangat tinggi. Menurut dia, Pemerintah Indonesia saat ini sedang mempraktikkan sistem ekonomi kebodohan.(exe/ist)


0 Komentar