Rabu, 03 Oktober 2018 11:33 WIB

Kopi Bengkulu Terus Didorong Jadi Komoditas Ekspor.

Editor : Eggi Paksha
Ilustrasi kopi. (foto istimewa)

JAKARTA, Tigapilarnews.com- Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendesa PDTT) terus mendorong peningkatan kualitas tata kelola kopi sebagai produk unggulan kawasan perdesaan (Prukades) Provinsi Bengkulu.

Saat ini banyak investor dari dalam maupun luar negeri tertarik menjadikan kopi Bengkulu sebagai komoditas ekspor.

"Kami terus berupaya bekerja sama dengan berbagai pihak baik di tingkat kementerian lain, kalangan swasta, penyedia jasa keuangan maupun berbagai komunitas petani kopi untuk mendorong kopi sebagai Prukades dari Bengkulu menjadi komoditas utama ekspor wilayah ini," ujar Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendesa PDTT, Anwar Sanusi, saat membuka Forum Group Discussion bertajuk Membangun Kolaborasi Mitra Usaha dalam Pembangunan Desa, di Kota Bengkulu, Selasa (2/10/2018) malam.

Dia menjelaskan Bengkulu menjadi salah satu penghasil kopi terbesar di Indonesia. Komoditas kopi di Bengkulu sebagian besar dihasilkan dari kebun rakyat. Sayangnya saat ini tata kelola komoditas ini belum sepenuhnya tertata sehingga belum bisa memberikan kontribusi optimal terhadap kesejahteraan masyarakat.

"Di Bengkulu masih banyak desa-desa tertinggal yang membutuhkan dorongan agar bisa menjadi desa mandiri. Salah satunya dengan optimalisasi pengelolaan kopi sebagai prukades kawasan ini," katanya.

Anwar menegaskan Prukades merupakan salah satu program prioritas Kemendes PDTT untuk meningkatkan kesejahteraan warga di kawasan perdesaan. Dalam pengelolaan prukades dibutuhkan kolaborasi dari sejumlah pemangku kepentingan (stake holder) baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat sehingga memberikan dampak riil bagi peningkatan kesejahteraan warga desa.

"Kami sangat terbuka dalam melakukan kerja sama dengan berbagai pihak baik di tingkat kementerian/lembaga, pemerintah daerah, BUMN, maupun kalangan mitra usaha untuk meningkatkan skala bisnis dari prukades sehingga memberikan dampak nyata bagi masyarakat," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Provisi Bengkulu Ali Sadikin mengungkapkan kopi menjadi salah satu tumpuan hidup dari masyarakat Bengkulu.

Kapasitas produksi perkebunan kopi di Bengkulu terutama jenis robusta termasuk tiga besar nasional. Pusat-pusat perkebunan kopi rakyat di Bengkulu di antaranya terdapat di Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Lebong, dan Kabupaten Redja Lebong.

"95% kapasitas produksi kopi di Bengkulu merupakan jenis robusta, saat ini sedang dikembangkan pengelolaan kopi premium dari jenis Arabica di tiga desa di Kabupaten Kepahiang," ujarnya.

Ali mengakui saat ini Pemprov Bengkulu terus melakukan berbagai terobosan untuk meningkatkan nilai jual kopi di Bumi Raflesia tersebut. Hanya pemerintah provinsi tidak bisa sendirian sehinga membutuhkan dukungan dari pemerintah pusat, kalangan dunia usaha, maupun kalangan perbankan agar kopi Bengkulu bisa menjadi komoditas ekspor.

"Saat ini Pemprov Bengkulu telah membentuk Tim Koordinasi Kopi Bengkulu untuk memunculkan kebijakan terobosan dalam meningkatkan tata kelola kopi karena kami benar-benar berharap komoditas ini bisa memberikan kesejahteraan bagi warga kami," katanya.

Dia pun berharap agar FGD yang digelar Kemendesa PDTT mampu memunculkan rekomendasi strategis bagi pengembangan kopi Bengkulu. Apalagi FGD tersebut dihadiri banyak kalangan baik dari komunitas petani kopi, kalangan pengusaha, maupun kalangan perbankan.

"Kami berharap FGD yang digelar di Bengkulu ini mampu menghasilkan rekomendasi strategis sehingga komoditas kopi dari wilayah ini benar-benar bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat," katanya.(exe/ist)


0 Komentar