Sabtu, 29 September 2018 12:07 WIB

Mahathir Nyatakan Tindakan Myanmar Terhadap Rohingya adalah Pembantaian

Editor : Eggi Paksha
Perdana Menteri (PM) Malaysia, Mahathir Mohamad. (foto istimewa)

JAKARTA, Tigapilarnews.com- Perdana Menteri (PM) Malaysia, Mahathir Mohamad, dalam pidatonya di Sidang Ke-73 Majelis Umum PBB mengecam tindakan militer Myanmar terhadap minoritas Muslim Rohingya yang dia sebut pembantaian.

Di hadapan para pemimpin dunia, Mahathir juga mengkritik gejolak politik, ekonomi, dan sosial yang semakin meningkat di seluruh dunia.

Dalam krisis Rohingya, pemimpin Malaysia ini menuduh seluruh dunia sudah gagal bertindak. "Bangsa-bangsa adalah independen, tetapi apakah ini berarti bahwa mereka memiliki hak untuk membantai rakyat mereka sendiri?," kata Mahathir mengacu pada krisis Rohingya dalam pidatonya hari Jumat waktu New York.

Pemimpin 93 tahun ini melanjutkan, gejolak politik hingga sosial sudah semakin parah pada abad ini. "Saya menyesali bagaimana dunia telah kehilangan arah," ujarnya.

"Dunia jauh lebih buruk daripada 15 tahun yang lalu," ujarnya. Dia mengutip perang dagang antara China dan Amerika Serikat yang tak kunjung mereda. "Seluruh dunia merasakan kesakitan," imbuh dia.

Sementara itu, wakil kepala kemanusiaan PBB Ursula Mueller mengatakan Myanmar tidak secara substantif dan konkret membahas masalah yang menyebabkan lebih dari 725.000 warga Muslim Rohingya melarikan diri dari negara bagian Rakhine. Kondisi saat ini, menurutnya, tidak tepat untuk memulangkan para pengungsi Rohingya dari Bangladesh.

"Pmerintah harus mengambil langkah nyata ke depan, dengan jelas menunjukkan komitmen untuk segera melakukan perubahan di lapangan," katanya mengacu pada Myanmar, seperti dikutip Al Jazeera, Sabtu (29/9/2018).

Dalam pidatonya, Mueller mengatakan Rohingya sekarang sebagai "populasi tanpa negara terbesar di dunia".

Dia mendesak para donor untuk menanggapi krisis pengungsi. Mueller juga mendesak pemerintah Myanmar untuk membongkar fasilitas terpisah bagi sekitar 600.000 orang Rohingya yang tinggal di Myanmar dan mengakhiri marjinalisasi dan kondisi menyedihkan yang banyak dipaksa untuk hidup.(exe/ist)


0 Komentar