Kamis, 12 Juli 2018 19:00 WIB

Antisipasi Kecurangan Pemilu 2019 di Luar Negeri, KPU Gunakan Sidalih

Editor : Eggi Paksha
Ilustrasi Komisi Pemilihan Umum (KPU). (foto istimewa)

JAKARTA, Tigapilarnews.com- Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengantisipasi adanya potensi kecurangan memilih dalam Pemilu 2019 di luar negeri.

Antisipasi ini dilakukan dengan menggunakan Sistem Data Pemilih (Sidalih). "Insyaallah potensi kecurangan memilih dua kali kecil, kan Sidalih bisa men-detect," ujar komisioner KPU, Viryan Aziz, di Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Jl Kemang Raya, Jakarta Selatan, Kamis (12/07/2018).
 

Viryan menerangkan pemilihan di luar negeri akan berlangsung lebih awal dibanding pemilihan di Tanah Air. Meski begitu, dia memastikan pemilih yang telah menggunakan haknya di luar negeri tak bisa memilih lagi di Indonesia.


"Kan dia (pemilih luar negeri) melakukan early voting, katakanlah di suatu negara ada perwakilan kita ada 1.000 pemilih. Setelah menggunakan hak pilihnya, bisa dikirim yang menggunakan siapa saja di-detect," kata Viryan.
 

KPU, kata Viryan, telah mengantisipasi kemungkinan adanya pemilih yang terdaftar di luar negeri kembali memilih di dalam negeri, dengan cara melakukan pencocokan dan penelitian daftar pemilih (coklit). Selain itu, pemilih yang melakukan pindah tempat memilih juga akan terdeteksi lewat Sidalih.

"Kita data (pemilihnya) dengan detail, salah satunya semangat coklit luar negeri kita gencarkan, dan sudah kita lakukan, memastikan pemilih di luar negeri mengetahui dirinya terdaftar atau belum terdaftar. Kedua, jajaran kami intens untuk mengefektifkan tanggapan masyarakat," kata Viryan.

"Ketiga, kalau gaung kegiatan ini sudah berjalan, kami akan melakukan sosialisasi terkait pindah memilih. Salah satunya lewat Sidalih akan dideteksi pemilih tersebut. Kalau sudah memilih di luar negeri, dia tidak bisa memilih di dalam negeri," sambungnya.(exe/dtik)


0 Komentar