Selasa, 05 Juni 2018 19:39 WIB

Bagaimana Malapetaka di Palestina Bermula?

Editor : A. Amir
70 tahun penjajahan Zionist Israel terhadap rakyat dan bangsa Palestine.

JAKARTA, Tigapilarnews.com - Hari Al-Nakba merupakan hari yang menandai pelarian rakyat Palestina pada tahun 1948 seiring dengan pendirian negara Israel. Sebanyak 711.000 hingga 725.000 rakyat Arab Palestina terpaksa pergi, melarikan diri, atau diusir dari rumah-rumah dan kampung halamannya seiring dengan pecahnya perang 1947-1948 di Palestina yang disusul dengan perang Arab-Israel pada 1948. Al-Nakba yang secara harafiah berarti malapetaka menandai sebuah tragedi besar bagi rakyat Palestina.

Hingga kini Israel mengusai 77 persen wilayah mandat Palestina sementara wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza terus menderita isolasi sistematis. Hingga kini gerombolan Zionis telah menghancurkan lebih dari 450 kota dan desa yang dibumiratakan secara sengaja agar mencegah rakyat Palestina kembali dari pengungsian ke kampung halamannya sendiri.

Sekilas secara singkat sejarah Palestina sejak masa Ustmani, penjajahan Inggeris hingga berdirinya Israel. 15 Mei, setiap tahun diperingati oleh rakyat Palestina sebagai hari Nakba (Malapetaka).

Tahun 2018 menandakan malapetaka tersebut telah terjadi selama 70 tahun lamanya.

Bagaimana Malapetaka di Palestina Bermula?

Di masa lampau, umat Muslim, Kristen dan sebagian kecil Yahudi Palestina hidup berdampingan dengan penuh kedamaian.

Tindakan persekusi terhadap Yahudi oleh umat Kristen di seluruh penjuru Eropa membuat mereka merasa tidak aman lagi untuk tinggal di Eropa.

Mereka mengungsi ke banyak tempat, termasuk ke wilayah Daulah Utsmaniyah.

Beberapa Sultan Utsmani mengizinkan mereka untuk tinggal di wilayah kekuasaannya, kecuali di wilayah Palestina.

Di abad ke-17 persekusi terhadap Yahudi terus terjadi, gerakan zionis Yahudi kemudian berkumpul di Basel, Swiss.

Dalam pertemuan tersebut mereka memutuskan untuk mendirikan sebuah negara independen untuk bangsa Yahudi.

Mereka melihat negeri Palestina yang saat itu menjadi bagian kekuasaan Daulah Utsmaniyah sebagai tempat yang tepat untuk mereka.

Gerakan zionis mulai merancang imigrasi besar-besaran ke negeri Palestina dan menyiapkan dana yang besar untuk membeli untuk membeli tanah di sana.

Pada tahun 1897, Theodor Herzl, pimpinan gerakan Zionis mendatangi Sultan Abdul Hamid II untuk membeli Palestina.

Namun Herzl pulang dengan tangan hampa, Khalifah dengan penuh izzah (kehormatan) menolak mentah-mentah tawaran emas yang berlimpah-limpah.

Kelompok Sekuler dan Yahudi di Turki kemudian membuat konspirasi, Sultan Hamid II berhasil diturunkan dari kekuasaannya di tahun 1909.

Di tahun 1914, Perang Dunia I pecah antara blok Sekutu dengan blok Sentral. Daulah Utsmaniyah memutuskan bergabung dengan blok Sentral.

Inggeris dan Perancis dari blok Sekutu, diam-diam membuat perjanjian Sykes-Picot pada tahun 1916 untuk membagi-bagi wilayah Utsmani.

Pihak Inggeris berkomitmen mendukung gerakan Zionis yang ingin menjadikan tanah Palestina sebagai negeri untuk bangsa Yahudi.

Pada tahun 1917, dukungan tersebut dituliskan dalam bentuk janji politik yang dikenal dengan nama Deklarasi Balfour.

Perang dunia I berakhir, blok Sentral yang didalamnya bergabung Daulah Utsmaniyah kalah dalam peperangan.

Wilayah kekuasaan Daulah Utsmaniyah dicaplok dan dibagi-bagi layaknya kue di atas meja.

Wilayah Palestina dikuasai oleh Inggeris.

Ketika memasuki Al-Quds (Yerusalem) pimpinan pasukan Inggeris, Jenderal Allenby dengan pongah mengatakan bahwa perang Salib telah usai.

Daulah Utsmaniyah yang menjadi pelindung umat Islam selama berabad-abad lamanya, resmi dihapuskan pada tanggal 3 Maret 1924.

Inggeris membuka lebar-lebar kran imigrasi Yahudi menuju Palestina. Rakyat Palestina mencoba untuk melawan.

Revolusi rakyat Palestina untuk melawan penjajahan Inggeris dan Zionis-pun pecah pada tahun 1936.

Salah satu pemimpin perlawanan itu adalah Syaikh Izzudin Al-Qassam yang kelak namanya dijadikan sebagai nama sayap meliter Hamas.

Syaikh Al-Qassam syahid ditembak tentara Inggeris pada tanggal 20 November 1935. Perjuangannya kemudian dilanjutkan oleh pengikutnya.

Selama 3 tahun revolusi dan perlawanan, ribuan rakyat Palestina wafat dibunuh dan dibantai. Pasukan Inggeris juga memburu semua pimpinan politik dan jihad Palestina.

Palestina semakin tidak berdaya karena ketiadaan sosok pemimpin perlawanan secara politik dan militer, mereka ada yang dibunuh, ditangkap atau diusir keluar dari Palestina.

Perang Dunia II pecah di tahun 1939.

Dunia kembali membara, peperangan dahsyat kembali terjadi.

Untuk melawan musuh, Inggeris merekrut tentara dari kalangan Yahudi yang ada di Palestina. Mereka dilatih secara militer.

Adolf Hitler, pimpinan Jerman melakukan pembantaian besar-besaran terhadap Yahudi. Mereka dikirim ke kamp-kamp konsentrasi.

Gelombang pengungsi Yahudi dari Eropa terus bertambah. Inggeris dan Amerika Serikat memutuskan untuk mambantu mereka.

Perang Dunia II berakhir pada tahun 1945.

Di tahun yang sama, Indonesia meraih kemerdekaannya namun saudaranya, Palestina masih berjuang melawan penjajah.

Kelompok bersenjata Yahudi yang pernah mendapatkan pelatihan militer dari Inggeris saat Perang Dunia II melakukan serangan besar-besaran di Palestina.

Tujuan mereka adalah untuk menekan dan mengusir pasukan Inggeris. Mereka sudah tidak sabar untuk menguasai seluruh wilayah Palestina. Kelompok bersenjata Yahudi aktif melakukan aksi pemboman ke gedung-gedung milik Inggeris dan pusat keramaian penduduk Palestina.

Aksi pemboman dan perlawanan tersebut membuat Inggeris kewalahan dan memutuskan untuk menarik diri dari Palestina.

Inggeris kemudian cuci tangan atas semua kekacauan yang terjadi di Palestina dan menyerahkan urusan tersebut kepada PBB.

Pada tanggal 29 November 1947 dilakukan voting mengenai pembagian wilayah Palestina menjadi 2 bagian yaitu untuk bangsa Arab (Islam dan Kristen) dan bangsa Yahudi.

33 negara setuju, 13 negara yang mayoritas negara Islam menolak dan 10 negara lainnya abstain.

Revolusi untuk pembagian wilayah Palestina akhirnya disahkan.

Kelompok bersenjata Yahudi terus berupaya mencaplok desa-desa dan kota-kota Palestina.

Kota-kota besar Palestina seperti Haifa, Jaffa, dan Tiberias jatuh ke tangan mereka.

Pembantaian, pembunuhan, pembersihan etnis juga terus dilakukan oleh kelompok Yahudi.

Penduduk Palestina tidak memiliki senjata memadai untuk melawan.

Penduduk Palestina berupaya menyelamatkan diri dengan cara mengungsi ke wilayah Palestina lain ataupun negara-negara Arab terdekat.

Secara resmi Inggeris mengakhiri mandatnya di Palestina pada tanggal 14 Mei 1948.

Sejak Inggeris mulai menjajah Palestina di tahun 1917 hingga kemudian meninggalkannya di tahun 1948, jumlah Yahudi bertambah sebanyak 10 kali lipat.

Tank-tank dan gudang senjata yang ditinggalkan pihak Inggeris diambil alih oleh kelompok bersenjata Yahudi.

Gerakan Zionis mendeklarasikan kemerdekaan Israel pada tanggal 14 Mei 1948.

1 hari setelah deklarasi kemerdekaan Israel, yakni pada tanggal 15 Mei, diperingati oleh penduduk Palestina sebagai hari Nakba, dalam bahasa Indonesia bermakna "Malapetaka."

Negara-negara Arab di sekeliling Palestina mendeklarasikan perang melawan Israel untuk menyelamatkan Palestina.

Walaupun banyak negara Arab yang membantu dan jumlah pasukan Arab lebih banyak, mereka tak mampu mengalahkan Israel.

Israel mendapatkan dukungan militer, politik dan keuangan yang besar dari negara-negara Barat terutama Amerika Serikat.

Kemenangan Israel mendorong mereka untuk memperluas wilayah kekuasaannya melewati batas-batas yang telah ditentukan oleh PBB.

Hingga bulan April 1949, lebih dari 500 Desa dan 10 Kota Palestina diambil alih dan diyahudisasi oleh Israel.

Lebih dari 750.000 rakyat Palestina diusir dari tanah airnya dan 13.000 wafat dibunuh Israel.

Nakba (Malapetaka) tidak serta merta berakhir pada tahun 1948 - 1949.

Hingga detik ini, setelah 70 tahun lamanya, malapetaka itu terus terjadi. Israel tak pernah berhenti berupaya mencaplok keseluruhan wilayah Palestina.

Israel tak pernah berhenti menghancurkan pemukiman dan perkebunan penduduk Palestina, Kemudian mendirikan pemukiman ilegal di atas tanahnya.

Penduduk Palestina yang tinggal di Tepi Barat dipaksa tunduk pada hukum militer yang dibuat oleh penjajah Israel.

Di Tepi Barat mereka harus melalui banyak checkpoint (Pos keamanan) yang didirikan di atas tanah mereka sendiri.

Mereka juga terkadang ditangkap dan dijebloskan ke penjara, tanpa proses hukum yang jelas dan tidak adil, juga tanpa pandang usia ataupun pria maupun wanita.

Penduduk Palestina di Jalur Gaza lebih menderita lagi. Wilayah udara, laut dan darat mereka diblokade secara total oleh Israel.

Penduduk Palestina terus berjuang hingga entah kapan untuk mendapatkan hak mereka untuk merdeka dan hidup bebas di atas tanah air mereka sendiri.

Bagi rakyat Palestina, Nakba (Malapetaka) tidak akan pernah berakhir sebelum mereka merdeka sepenuhnya dari penjajahan Israel.

(Cordova Media / AA)


0 Komentar