Jumat, 25 Mei 2018 07:52 WIB

Larang Fahri Ceramah di Kampus UGM, Presiden Diminta Konsisten dengan Gerakan Reformasi

Editor : Luki Junizar

JAKARTA, Tigapilarnews.com - Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago meminta Presiden Jokowi konsisten menjalankan amanah reformasi tahun 1998. 

Kran demokratisasi disegala lini kehidupan yang telah mengalir di masyarakat pada permulaan reformasi tidak setback seperti masa pemerintahan Orde Baru.

"Saya melihat situasi politik dan demokrasi dewasa ini seperti menggalami gelombang balik. Ada trend munculnya feodalisme dan otoriter dalam menjalankan pemerintahan. Banyak rakyat di tangkap," kata Pangi, Jumat (25/5/2018).

Direktur Ekesekutif Voxfol Center Research and Consulting ini tidak merinci lebih jauh trend yang dia maksud. Malah dia lagi-lagi mensinyalir ada gelombang balik dari demokrasi ke semi otoriter. 

Orang sering keliru , merasa takut bila kalangan militer yang berkuasa, pada hal menurut Pangi, sipil berkuasa juga bisa lebih militeristik dan sentralistik. 

"Ada mahasiswa menjadi korban ketika berhadapan dengan aparat keamanan. Masyarakat yang protes atas naiknya harga kebutuhan pokok, protes atas utang luar negeri, memprotes kebijakan impor dan memprotes  atas tarif listrik, lewat media sosial, malah berhadapan dengan aparat penegak hukum," ujar Pangi .

Karena itu dia meminta pemerintahan Presiden Jokowi tidak baper dan  terlalu sensitif menyikapi kelompok-kelompok masyarakat yang kerap bersuara kritis dan tajam kepada pemerintah. 

Pangi mengingatkan, sebuah rezim yang berwatak feodalisme dan suka baper, biasanya sulit bertahan lama."Kan jadi lucu dan aneh, jika disini rakyat sendiri dimusuhi negara, sementara asing  mendapat perlakuan khusus," ujarnya.

Pangi menyatakan kecewa dan prihatin karena adanya masyarakat masuk bui yang dijerat lewat UU Informasi dan Transaksi Elektronik(ITE). Penggunaan UU ini kata dia menandakan kecenderungan pemerintah bertindak otoriter, pada hal kita negara menganut sistim demokrasi.

"Dalam prakteknya, tidak jelasnya membedakan mana  wilayah kritik, protes, curhat dan suara kesalnya rakyat. Makin sulit membedakannya, ujungnya jadi ujaran kebencian , akhirnya masuk bui juga," kata Pangi yang mengaku dari awal mencurigai misi dari UU ITE ini. 

Sebab dibalik penerapannya kata dia, ruang kritik dibatasi, akhirnya demokrasi bisa tergerus."U U ITE ini sudah  memakan korban,  rakyat Indonesia sendiri yang kesal dan marah dengan pemerintah  yang dianggap tidak bisa merasakan dan sensitif atas permasalahan yang dihadapi rakyat" ujar Pangi.

Dalam peristiwa yang dihadapi Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah yang dilarang menyampaikan ceramah di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, Pangi menyatakan, hal tersebut mengkonfirmasi kalau negara kita dalam keadaan tidak baik-baik.

Sekelas pimpinan DPR saja dihalang-halangi atau dicekal ceramah di bulan ramadhan, berarti ada problem fundamental yang sedang kita hadapi," pungkasnya. 

Ganti Penceramah

Terpsiah, pihak Rektor UGM Panut Mulyono mengakui telah meminta takmir masjid untuk mengganti penceramah.

"Tidak jadi, memang waktu itu prinsipnya beliau (Fahri) ke Yogyakarta tetapi tidak ke masjid kampus (UGM)," kata Rektor UGM, Panut Mulyono saat dihubungi.

Panut menjelaskan, memang UGM meminta kepada takmir Masjid UGM untuk mengganti nama Fahri dengan penceramah yang lain. Namun dia enggan menyebutkan alasannya.

"Karena memang UGM itu lalu minta kepada takmir supaya diganti pembicara yang lain," sebutnya.

Namun Panut enggan menjelaskan lebih lanjut apa alasan UGM untuk meminta takmir mengganti penceramah. "Sudah tanya Bu Iva (Kepala Bagian Humas dan Protokol UGM, Iva Aryani)," ucap Panut saat ditanya apa alasan UGM mencoret nama Fahri Hamzah.

Bantah Larang UGM

Sementara itu, pihak istana membantah jika dikabarkan telah melarang pihak kampus UGM melarang Fahri Hamzah berceramah di kampus itu.

"Terus terang, itu pasti tidak benar. Masa, Istana berkepentingan menghalang-halangi?" kata Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Kantor Staf Presiden Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi, Ali Mochtar Ngabalin.

Kata dia, para penggawa Kantor Staf Presiden (KSP), staf khusus, dan jajaran yang ada di Istana Kepresidenan sudah banyak pekerjaan, jadi tak ada waktu untuk mengurusi perihal pelarangan ceramah, termasuk memberi perintah untuk UGM agar membatalkan Fahri hamzah berceramah di Masjid Kampus.

"Delapan bulan terakhir ini teman-teman di KSP maupun Staf Khusus, maupun juga jajaran Istana itu amat sibuk dengan mempersiapkan laporan-laporan kerja yang diperintahkan Bapak Presiden," kata Ngabalin.

Bahkan Ngabalin tak setuju dengan sikap Kampus Biru yang melarang Fahri Hamzah untuk berceramah. Soalnya, Fahri adalah umat Islam, Wakil Ketua DPR, dan masjid adalah milik seluruh suku bangsa. 

"Saya menyesalkan kalau sampai dilarang, saya meyesalkan tindakan itu (UGM menolak Fahri Hamzah)," kata Ngabalin yang juga Ketua Umum Pengurus Pusat Badan Koordinasi Mubaligh Seluruh Indonesia ini.

Sebelumnya, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menyebut alasan pihak Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta sebagaimana disampaikan Kabag Humas dan Protokol UGM, Iva Aryani bahwa pencoretan namanya dari daftar penceramah tarawih di Masjid UGM karena adanya Ismail Yusanto bekas jubir Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), merupakan alasan yang dicari-cari.

"Nggak ada hubungan dengan HTI. Semua orang itu jadi tidak merdeka karena ditekan penguasa. Dan itu, alasan dicari-cari," kata Fahri saat dikonfirmasi wartawan di Gedung DPR RI, Kamis (24/5/2018).

Soal adanya tekanan penguasa ini, Fahri justru mendapat kontak dari pihak takmir Masjid bahwa rektor ditekan oleh para pejabat di atas, kalau dirinya tidak boleh ceramah di Masjid UGM.

"Sebenarnya banyak alasan yang sampai ke saya, tapi intinya saya nggak boleh ceramah. Ada rasa takut yang sangat tinggi akibat tekanan dari luar itu. Takmir bilang terpaksa melakukannya," beber politisi PKS itu lagi.

Dikatakan bahwa undangan diterimanya jauh sebelum puasa, dan takmir menyesal sekali karena nama Fahri sudah disosialisasikan jauh-jauh hari.

"Katanya yang saya dengar gitu... tapi malam itu mahasiswa UGM banyak yang jumpa saya di acara ngopi bareng dan cerita bahwa rektor nggak mau membuat larangan tertulis tapi hanya lisan," cetus Fahri.

Berikut Kronologi yang dikonfirmasi langsung oleh tim Fahri Hamzah kepada awak media;

1. Tanggal 21 malam, sehabis acara dialog peringatan reformasi di TV swasta di Jakarta, Fahri Hamzah ditelpon takmir Masjid UGM.

2. Pada surat per tanggal 22 Februari 2018, yang isinya adalah undangan untuk Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah untuk mengisi ceramah dan dialog tarawih bulan Ramadhan 1439 Hijriyah yang dijadwalkan pada hari senin 21 Mei 2018 jam 19.00 – 22.00 WIB di masjid kampus UGM (Universitas Gadjah Mada).

3. Pihak masjid kampus UGM mempublikasikan jadwal keseluruhan penceramah di bulan Ramadhan, tidak hanya kajian Ramadhan, tapi juga kajian subuh, dan seterusnya, yang ini beredar luas juga karena berita sebelumnya bahwa ada nama Ismail Yusanto, yakni juru bicara HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang juga dilarang.

4. Pada tanggal 17 Mei (awal Ramadhan) pihak DPR RI menyampaikan bahwa ada permintaan perubahan jadwal kepada pihak masjid UGM, dari tanggal 21 Mei 2018 diundur ke tanggal 22 Mei 2018, hal ini disebabkan karena pada tanggal 21 Mei ada banyak sekali acara Fahri Hamzah di Jakarta, berkenaan dengan puncak peringatan 20 tahun reformasi, dan sudah diinfokan sejak awal.

5. Selain pihak masjid kampus UGM, masuk juga permintaan yang hampir bersamaan dari pihak kampus UII (Universitas Islam Indonesia), dengan judul acara “Diskusi Civitas Akademika” dimulai dari 15.30 – berbuka bersama, jadi pada awalnya, akan ada dua agenda kampus pada hari senin tanggal 21 Mei.

6. Ketika diinformasikan adanya permintaan pengunduran jadwal, penanggung jawab acara kedua kampus menyatakan ketersediaannya.

7. Pada hari Senin, sore sampai dengan malam, muncul informasi dari pihak kampus UGM, yang menyatakan bahwa ada tekanan dari pihak rektorat kepada takmir masjid UGM agar membatalkan jadwal ceramah Fahri Hamzah pada malam hari tgl 22 Mei 2018.

8. Pada hari selasa pada tanggal 22 Mei, semua acara berlangsung seperti yang dijadwalkan, tetapi karena mendapat informasi bahwa ada pembatalan dari pihak masjid UGM, maka pada tanggal 22 malam tersebut, Fahri Hamzah tidak mendatangi masjid kampus UGM.

9. Pada sore harinya, saat acara berlangsung di UII, pihak takmir masjid mendatangi lokasi UII, meminta maaf atas kejadian tersebut, bahkan juga meminta berfoto-foto, jadi mereka murni meminta maaf, karena mendapat tekanan dari rektorat.

Menurut sumber di DPR RI, jadwal semula Fahri Hamzah dalam kunjungan dua hari di Yogyakarta adalah bertemu Sri Sultan, dilanjutkan dua sesi di kampus yakni di UII dan UGM, dilanjutkan acara Ngopi Bareng Fahri dan Sahur Bareng jamaah dan pengurus Masjid Jogokariyan. Seluruh agenda berjalan lancar kecuali pembatalan sepihak acara di UGM pada Senin (21/5) malam. 


0 Komentar