Sabtu, 05 Mei 2018 19:40 WIB

Rini Tanggapi soal Ancaman Demo Karyawan Garuda

Editor : Eggi Paksha
Garuda Indonesia. (foto istimewa)

JAKARTA, Tigapilarnews.com- Karyawan PT Garuda Indonesia (Persero) berencana menggelar aksi demonstrasi.

Sejumlah karyawan Garuda mempermasalahkan susunan direksi hasil RUPS tanggal 19 April kemarin. Lalu seperti apa tanggapan Menteri BUMN?

Menteri BUMN, Rini Soemarno, merespons dingin rencana aksi tersebut. Dia terkesan menghindar saat dimintai tanggapan awak media.

Dia lalu menyarankan awak media bertanya ke Deputi Kementerian BUMN yang menangani Garuda.

"Kalau Garuda ini deputinya, Bapak Gatot. Bicara dengan Pak Gatot," kata Rini kepada wartawan sesuai menghadiri 'Gerakan Stabilisasi Harga Pangan, Program Sinergi BUMN untuk Kesejahteraan Petani', di Desa Kebonagung, Imogiri, Bantul, Sabtu (05/05/2018).
 

Sementara Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei dan Jasa Konsultasi Kementerian BUMN, Gatot Trihargo, mengatakan kini Garuda Indonesia sedang dalam tahap transformasi, setelah mengalami kerugian pada tahun lalu.

"Terkait rencana (karyawan) mau mogok, sebenarnya semua pihak harus menyadari bahwa kita perlu sama-sama bagaimana meningkatkan kinerja. Kalau mogok nanti reputasi Garuda juga (terdampak)," jelasnya.

"Masing-masing harus bekerja sesuai dengan perannya masing-masing. Manajemen juga, karyawan juga. Jadi kita berusaha sekuat tenaga biar Garuda bisa bekerja lebih baik lagi. Kalau sudah rugi, mau mogok itu akan lebih memperparah kondisi," lanjutnya.

Gatot menjelaskan, kini persaingan maskapai penerbangan sangat ketat. Oleh sebab itu, semua pihak baik itu karyawan maupun manajemen Garuda Indonesia harus bergandengan tangan dalam meningkatkan kinerja dan pelayanan ke publik.

"Nanti kalau misalnya mogok, yang tepuk tangan justru persaing-pesaingnya, ini yang tidak bagus," ungkapnya.

Menurutnya, Kementerian BUMN juga telah melakukan evaluasi terhadap Garuda setelah tahun lalu merugi. Pihak Kementerian telah meminta manajemen Garuda menutup rute penerbangan yang tidak menguntungkan seperti rute Jakarta-London.

"Dari pada rugi di luar negeri lebih baik kita mencari rute-rute yang potensial bisa meningkatkan value demi Garuda ke depan," pungkas Gatot.(exe/ist)


0 Komentar