Selasa, 24 Oktober 2017 17:57 WIB

Kepala Daerah Diminta Sejahterakan Petani

Editor : Eggi Paksha
Presiden Joko Widodo. (foto istimewa)

JAKARTA, Tigapilarnews.com- Presiden Joko Widodo mengingatkan para kepala daerah agar membuat terobosan untuk menjadikan petani di daerah dapat sejahtera.

"Berkaitan dengan pertanian, saya titip agar petani-petani kita sejahtera, tapi kalau pola-pola lama kita pakai tidak mungkin petani-petani sejahtera harus ada desain baru yang namanya budi daya, on farm, dari dulu sampai sekarang sudah kita kerjakan, petani (keadaannya) akan tetap seperti itu," kata Presiden Joko Widodo di Istana Negara Jakarta, Selasa (24/10/2017).

Presiden Jokowi menyampaikan hal tersebut dalam acara "Pengarahan Presiden Republik Indonesia Kepada Para Gubernur, Bupati dan Wali Kota Seluruh Indonesia" yang dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla dan para menteri kabinet kerja.

"Dengan cara itu meski subsidi pupuk Rp32 triliun tiap tahun, kalau 10 tahun sudah Rp320 triliun, jadi apa? Kalau 20 tahun berati Rp640 triliun jadi apa? (Seharusnya) bukan di situ lagi tapi harus bergerak ke pasca panen," tambah Presiden.

Ia juga mengajak para gubernur, bupati dan wali kota agar dapat membangun kelompok besar petani yang disebut sebagai korporasi petani.

"Saya mengajak gubernur, bupati, wali kota agar petani mau membangun kelompok besar sehingga seperti korporasi petani. Supaya apa? ada economic scale, ada skala ekonomi yang besar. Tanpa itu tidak mungkin karena keuntungan besarnya di produk-produk yang dikerjakan petani saat pasca panen," jelas Presiden.

Presiden selanjutnya menyoroti besaran "Rice Mill Yield" (RMY) atau persentase gabah kering giling yang dihasilkan oleh para petani.

"Saya lihat, di desa-desa penggilngan padi usianya 30-40 tahun. Rendemennya (persentase berat hasil penggilingan terhadap berat gabah yang digiling) jatuh. Harusnya (pabrik penggilingan) sudah diganti penggilingan yang modern, ada packaging-nya di situ. Sudah saya lihat di Sukabumi seperti itu ada penggilangan berjalan tapi penggilangan modern," tutur Presiden.

Bila hasil pertanian sudah dikemas seperti itu maka menurut Presiden tinggal mendesain kemasan dan langsung dipasarkan ke "supermarket" atau pasar swalayan maupun pengecer.

"Petani untungnya di situ, atau untuk ekspor terutama produk organik mudah sekali beras-beras organik. Jadi belikanlah mereka rice mill unit yang modern, tidak mahal kok, yang di Jatim itu berapa Pak Gub? Rp400 juta, tidak mahal-mahal amat, tergantung kapasitas," ungkap Presiden.

Contoh lain adalah penggilingan di PT Badan Usaha Milik Rakyat (BUMR) Pangan Terhubung Sukabumi Luwarso senilai Rp12 miliar.

"Yang Rp12 miliar ini tergantung kapasitanya, mau minta gede atau kecil. Mesinnya harus modern, penggilingan harus masuk ke rice mill lalu keluar sudah dengan packaging langsung dikemas. Saya titip agar kita bisa menjadikan petani-petani yang punya jiwa entrepreneurship yang baik, tapi dengan industri rice mill, tanpa industri pupuk di daerah akan sulit mereka menaikkan kesejahteraan petani," ujar Presiden, menegaskan.(ant)


0 Komentar