Sabtu, 22 Juli 2017 08:51 WIB

Turki Tak Takut Ancaman Jerman

Editor : Eggi Paksha
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. (foto istimewa)

JAKARTA, Tigapilarnews.com- Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, mengatakan kepada Jerman bahwa pihaknya tidak dapat menakut-nakuti Ankara dengan ancaman.

Erdogan menyatakan hal itu terkait perselisihan dengan Jerman yang semakin meningkat mengenai penangkapan enam aktivis hak asasi manusia.

Jerman telah mengatakan bahwa pihaknya sedang meninjau semua kesepakatan senjata dengan Turki. Berlin mengatakan bahwa kesepakatan itu harus mempertimbangkan hak asasi manusia saat membuat keputusan ekspor.

"Anda (Jerman) tidak memiliki kekuatan untuk mengalahkan Turki," kata Erdogan seperti dikutip dari BBC, Jumat (21/07/2017).

Sebelumnya, pemerintah Jerman telah memperingatkan warganya bahwa mereka berisiko jadi korban penangkapan sewenang-wenang di Turki.

Menteri Keuangan Wolfgang Schäuble menuduh negara tersebut bertindak seperti Komunis Jerman Timur, menangkap orang dan menolak bantuan konsuler mereka.

"Orang-orang yang bepergian ke Turki untuk alasan bisnis atau pribadi didesak untuk meningkatkan kewaspadaan," kata kementerian luar negeri Jerman.

Tapi Erdogan menggambarkan peringatan tersebut sebagai sesuatu yang tidak berdasar dan berbahaya. Erdogan pun mengklaim bahwa pengadilan Turki lebih independen daripada tentara Jerman. "Jerman harus memilah sendiri," tambahnya.

Hubungan dingin antara kedua negara anggota NATO itu telah semakin dingin dalam beberapa hari terakhir karena gelombang penangkapan baru-baru ini oleh otoritas Turki.

Seorang warga Jerman, Peter Steudtner, dan direktur Amnesty International Turki, Idil Eser, termasuk di antara mereka yang ditahan.

Penahanan Turki terhadap Deniz Yücel, seorang wartawan Jerman-Turki dengan harian Berlin Die Welt, adalah titik lain yang menyakitkan dalam hubungan dua negara tersebut. Dia ditangkap pada bulan Februari karena tuduhan teror, yang telah ia bantah.

Presiden Turki Erdogan telah dikecam dunia internasional untuk pembersihan institusi negara besar-besar setelah sejumlah perwira militer yang nakal mencoba menjatuhkannya setahun yang lalu.

Lebih dari 50.000 orang telah ditangkap sejak 15 Juli 2016, termasuk lebih dari 170 wartawan dan mayoritas politisi oposisi, akademisi dan aktivis.(exe/ist)


0 Komentar