Rabu, 22 Maret 2017 23:22 WIB

Presiden Timor Leste Janji Dorong Pemerintah Bekerja Lebih Keras

Editor : Eggi Paksha
Pendukung Francisco Guterres. (foto istimewa)

JAKARTA, Tigapilarnews.com- Kemenangan mantan gerilyawan Francisco Guterres dalam Pemilu Presiden (Pilpres) Timor Leste menandakan stabilitas di negara termuda di Asia tersebut menguat.

Guterres atau dikenal dengan julukan Lu Olo itu menang pilpres putaran pertama berdasarkan hasil hitung cepat yang dilakukan petugas pemilu kemarin. 

Dia mendapatkan lebih 57% suara dalam pilpres yang digelar Senin (20/3). Lu Olo meraih lebih dari 50% plus satu suara sehingga dia menang pilpres dan tak perlu ada putaran kedua.

”Saya yakin tidak akan ada putaran kedua,” ungkap Guterres setelah hasil penghitungan awal diumumkan, dikutip kantor berita Reuters. 

Komisi pemilu akan mengumumkan hasil resmi pilpres pada 23 Maret mendatang. Hasil penghitungan itu akan diverifikasi oleh pengadilan sekitar sebulan. ”Ini tepat seperti yang saya perkirakan di mana Lu Olo menang putaran pertama dan tidak perlu ada putaran kedua,” ujar Sekretaris Jenderal Partai Fretilin, Mari Alkatiri, dikutip kantor berita AFP kemarin. 

Fretilin merupakan partai yang dipimpin Guterres. ”Adapun pesaing terberat Guterres, Menteri Pendidikan Timor Leste Antonio de Conceicao, meraih 32% suara, lebih baik dibandingkan kandidat lain,” ungkap Kepala Badan Pengawas Logistik Proses Pemilu Timor Leste, Acilino Manuel Branco.

Setelah hasil akhir dikonfirmasi oleh badan pemilu dan Guterres dinyatakan resmi menang, dia akan dilantik sebagai presiden pada Mei mendatang. Kepemimpinan Guterres akan menghadapi tantangan besar setelah 15 tahun kemerdekaan Timor Leste dari Indonesia.

Saat ini cadangan minyak Timor Leste semakin menipis dan pemerintah harus berjuang mengatasi konflik berkepanjangan dengan Australia terkait sejumlah ladang minyak. 

Ini pertama kali sejak 2002 di mana pilpres di negara itu diputuskan hanya dalam satu putaran. Hasil resmi penghitungan akan dikonfirmasi dalam beberapa hari mendatang dan diyakini Guterres sebagai pemenangnya.

Fretilin merupakan partai terbesar kedua di Timor Leste setelah partai CNRT yang dipimpin pahlawan kemerdekaan Xanana Gusmao.

Pengamat menyatakan, kemenangan Guterres hanya dalam satu putaran akan meningkatkan stabilitas di negara yang saat ini diguncang kekerasan tersebut. 

”Suara kuat yang mendukung satu kandidat itu positif,” kata Damien Kingsbury, pakar Timor Leste dari Universitas Deakin, Australia. Saat ini Kingsbury berada di Timor Leste sebagai pemantau pemilu.

Pilpres itu pemilu pertama sejak kepergian pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa(PBB) pada 2012. Pemilu itu berlangsung lancar dan hanya ada sedikit kerusuhan sporadis di beberapa tempat.

Meski jabatan presiden lebih bersifat seremonial, posisi itu memiliki peran penting dalam menjaga perdamaian di antara para politisi yang bertikai. 

Guterres lahir dari keluarga sederhana dan seperti banyak politisi di Timor Leste, dia terlibat dalam perang selama proses kemerdekaan. Pilpres itu menjadi awal dari pemilu parlemen yang lebih penting dan digelar akhir tahun ini untuk memilih pemerintahan dan perdana menteri (PM).

Timor Leste yang berpenduduk 1,2 juta jiwa itu gagal menciptakan kesejahteraan dari pendapatan minyak dan gasnya. Saat ini pengangguran di negara itu sekitar 60%.

Para pengamat menjelaskan, tantangan untuk pemerintahan baru mendatang adalah membawa negara itu keluar dari ketergantungan terhadap pendapatan minyak dan mendiversifikasi sumber pendapatan dari pertanian dan manufaktur. 

Sektor energi mencakup sekitar 60% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2014 dan lebih dari 90% pendapatan pemerintah. ”Saya akan mendorong pemerintah bekerja keras untuk memperbaiki kesenjangan yang kita lihat di semua sektor perekonomian lain,” ungkap Guterres.

Timor Leste mendapat kemerdekaan dari Indonesia pada 2002. Banyak tokoh penting dalam pergolakan politik selama proses kemerdekaan itu yang kini menjadi politisi di Timor Leste.

Meski telah merdeka, Timor Leste menghadapi permasalahan kemiskinan dan pengangguran yang sangat akut. Timor Leste menurut para pengamat harus meningkatkan kemampuan dalam menciptakan lapangan kerja di berbagai sektor.(exe/ist)


0 Komentar