Selasa, 14 Maret 2017 21:59 WIB

Jepang Kesulitan Penuhi Permintaan Raja Saudi

Editor : Eggi Paksha
Raja Arab Saudi (kiri) dan Shinzo Abe. (foto istimewa)

JAKARTA, Tigapilarnews.com- Raja Arab Saudi, Salman bin Abdul-Aziz al-Saud dan delegasi besarnya tiba di Jepang pada Minggu (12/3).

Pemerintah Jepang pun menyambut dengan hangat. Mereka menghamparkan “karpet merah” secara khusus. Seorang sumber Pemerintah kerajaan Saudi mengatakan pihak nya menyewa 1.000 sampai 1.200 ruangan hotel high-end di Tokyo dan 500 limusin.

Para tamu dari Arab Saudi yang datang ke Jepang sangatlah masif hingga pemerintah Jepang “kewalahan”. Mereka kesulitan melakukan persiapan yang akurat. 

Konsensus secara umum, jumlah tamu yang akan datang sekitar 1.200 orang yang meliputi 10 pangeran, 10 menteri kabinet, anggota keluarga kerajaan, dan bos-bos bisnis. 

“Biaya pemeliharaan untuk mobil mewah tinggi sehingga tuntutan konstan untuk kendaraan seperti itu masih rendah di Jepang,” ujar seorang sumber di industri limusin. “Nah, karena stok dari Tokyo tidak mampu memenuhi permintaan itu, akhirnya kami mengumpulkan limusin dari Kanagawa, Saitama, dan Tokai,” tambahnya. 

Perdana Menteri (PM) Shinzo Abe sendiri juga tampak terkesima dengan jumlah tamu yang datang. “Jika tamu Arab Saudi pergi ke pusat per belanjaan, itu akan menjadi kabar bagus bagi toko-toko,” katanya, dikutip Asahi Shimbun. 

Arab Saudi memang selalu membawa rombongan besar saat ke luar negeri. Mereka memakai puluhan pesawat penumpang dan kargo. 

Kesepakatan Ekonomi 

Kemarin Raja Salman bertemu dengan PM Abe di Tokyo. Kedua pemimpin tertinggi itu sepakat untuk meluncurkan studi kelayakan rencana deregulasi khusus zona ekonomi guna menarik investor dan perusahaan Jepang untuk datang ke negara Timur Tengah. 

Seperti dilansir Japan Times, dengan menerapkan Enabler Showcase Zone, Arab Saudi kemungkinan menawarkan insen tif pajak dan prosedur bea cukai sederhana untuk mendorong per usahaan Jepang membangun plant dan pusat pengembangan dan riset. 

Toyota Motor Corp dilaporkan akan mulai melakukan studi di Arab Saudi. “Arab Saudi di satu sisi sedang mencoba memperbanyak ragam ekonomi mereka dan me ngurangi kebergantungan terhadap minyak dengan memelihara pertumbuhan dan per luasan lapangan kerja di sektor industri yang lain,” bunyi keterangan gabungan kedua negara di Kantor Perdana Menteri Jepang di Tokyo kemarin. 

Di sisi lain, Jepang juga sedang menggalakkan program peningkatan ekspor, investasi, dan pariwisata dengan mengeksplorasi pertumbuhan pasar baru di luar wilayah domestik dan negara tetangga. Pada awal pertemuan, Raja Salman mengaku optimistis kemitraan strategis kedua negara akan kian menguat di berbagai sektor unggulan. 

Raja Salman dan Abe di laporkan fokus terhadap sembilan kerja sama utama, termasuk industri yang kompetitif, energi, kesehatan dan obat-obatan, infrastruktur sosial berkualitas tinggi, investasi, dan keuangan. 

Kedua negara juga sepakat mempromosikan perusahaan minyak Saudi Aramco, untuk masuk dalam Bursa Saham Tokyo. Sejak menderita penurunan harga minyak mentah, Arab Saudi mulai membuat program baru bernama Saudi Vision 2030 pada April2016.

Pemerintah Arab Saudi ingin berupaya mengoptimalkan potensi lain yang mereka miliki, terutama di sektor pariwisata.

Sampai 2016, sekitar 50% PDB dan 85% ekspor Arab Saudi berasal dari minyak. Dengan diversifikasi ekonomi, Arab Saudi berharap masa depan rakyat akan lebih menjanjikan. Arab Saudi merupakan pemasok minyak terbesar Jepang. 

Sekitar sepertiga impor minyak Jepang pada 2015 berasal dari Arab Saudi. Kepala Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga juga mengakui Arab Saudi sebagai jantung Timur Tengah. 

“Kunjungan Raja Salman ke Jepang merupakan sejarah,” kata Suga yang menambahkan bahwa ini merupakan kunjungan pertama raja Arab Saudi dalam 46 tahun terakhir. Kemarin Menteri Luar Negeri, Fumio Kishida dan Kepala Perdagangan Hiroshige Seko secara terpisah bertemu dengan Raja Salman di Tokyo. 

Raja Salman yang berbicara melalui penerjemah menegaskan kepada Abe bahwa Timur Tengah saat ini sedang menghadapi masalah diplomatik dan krisis kemanusiaan di Palestina, Yaman, dan Suriah. 

“Sayangnya, krisis tersebut sekarang mem berikan dampak negatif terhadap kawasan,” kata Wali Dua Mesjid Suci di Arab Saudi itu. Raja Salman melanjutkan, Arab Saudi mengakui Jepang sebagai mitra inti dalam melawan terorisme. Kedua negara diharapkan dapat lebih terbuka dalam berdialog mengenai kondisi kawasan, budaya yang beragam, dan sinergi. 

Keduanya lalu menandatangani memorandum 11 proyek untuk memperkuat kerja sama bilateral Pada September lalu, Pangeran Arab Saudi Mohammed bin Salman dan Abe bertemu di Tokyo. Mereka menyepakati peluncuran Joint Group for Saudi Japan Vision 2030 yang dipimpin lima kementerian dari kedua negara. 

Pada bulan berikutnya, kelompok ambisius tersebut melakukan pertemuan tingkat menteri pertama di Riyadh. Hari ini Raja Salman bersama sekitar 500 pebisnis Jepang dan pejabat pemerintah dijadwalkan menghadiri forum ekonomi yang dikelola Japan External Trade Organization di Tokyo.

Raja Salman juga kemudian dijadwalkan bertemu dengan Kaisar Akihito untuk makan siang bersama di kediaman Akihito di Istana Kerajaan Tokyo.(exe/ist)


0 Komentar