Kamis, 12 Januari 2017 12:31 WIB

Gerindra: Pidato Megawati Penistaan yang Menusuk dan Menghina Umat Islam

Editor : Luki Junizar
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri (ist)

JAKARTA Tigapilarnews.com - Politikus Partai Gerindra, Raden Muhammad Syafi’i mengatakan, pidato Ketua  Umum PDIP, Megawati Soekarno Putri pada perayaan HUT PDIP ke-44 telah menghina semua hal yang terkait dengan Islam dan merupakan penistaan yang sangat menusuk iman Islam. 

Dia pun meminta Megawati untuk mempertanggungjawabkan isi pidaotonya tersebut karena telah menghina Allah, Al Quran, Nabi Muhammad adan umat Islam.

“Pidato itu terutama yang dia katakan jika firman Allah itu adalah ramalan adalah penistaan yang sangat menusuk akidah umat Islam dan harus dipertanggungjawabkan. Megawati telah menghina iman Islam karena salah satu bunyi rukum iman percaya pada hari akhir dan kalau tidak percaya hari akhir maka dia bukan Islam,” ujar Muhammad Syafi’i di gedung DPR, Kamis (12/1/2017),

Firman Allah mengenai akhirat dan sebagainya menurut Pria yang kerap disapa Romo ini adalah berita dari Allah dan bukanlah sebuah ramalan seperti yang dikatakan Megawati.

”Kalau memang dia tidak percaya maka lebih baik dia diam saja dan tidak usah menghasut umat untuk ikut tidak percaya pada keyakinannya. Kalau dia tidak percaya tidak perlu juga diomongkan seperti itu, yah diam-diam saja. Indonesia bisa rukun dan damai karena mayoritas bangsa Indonesia percaya pada Allah, apa dia tidak sadar?,” tambah imbuh Anggota Komisi III DPR RI ini lagi.

Dia pun yakin, pidato tersebut bukan ditulis langsung oleh Megawati, tapi menurutnya baik Megawati maupun penulis pidato itu jelas tidak memiliki pemahaman yang baik tentang apa yang diucapkan dan yang dituliskannya.

”Megawati sebagai pembaca pidato dibuat orang lain itu saya yakin sama-sama tidak memahami dan memiliki pengetahuan agama yang cukup baik sehingga bisa berbicara dan menulis pidato yang demikian  menyakitkan umat Islam,” imbuhnya. 

Mereka menurutnya, tidak memahami kultur memahami kultur dan semangat religiusitas di Indonesia. Kehidupan beragama di Indonesia selama ini sudah berjalan dengan baik, kerukunan umat beragama juga sudah terawat dengan baik dan tentu ini karena dipelihara oleh masing-masing pemeluk agama dan terutama yang paling menentukan adalah sikap dari mayoritas pemeluk Islam yang sangat toleran.

“Karena itu kalau berbicara hendaknya disesuaikan dengan kapasitas. Jika akhirat dikatakan ramalan ramalan jelas mereka tidak memahami itu. Sikap seperti ini bisa mengobok-obok kerukunan. Saya mengimbau kepada semua pemimpin yang ada di republik untuk berbicara sesuai kapasitas dan menjaga persatuan dan kesatuan merawat kerukunan umat beragama. Jangan sekali-sekali berbicara rasis baik untuk bangsa sendiri maupun bangsa lain di dunia serta menjaga sopan santun tata budaya bangsa,” tegasnya.

Dia pun sepakat, bangsa indonesia memang tidak perlu menjadi seperti bangsa lain tapi perlu dipahami bahwa dalam ibadah-ibadah Islam itu banyak yang menggunakan bahasa Arab. Ini menurut Romo bukan berarti kita menjadi seperti bangsa Arab. 

“Selain itu sangat tidak layak kalau kita mendeskreditkan bangsa lain hanya karena persoalan agamanya,” ujar mantan anggota MKD DPR ini.

Lebih lanjut dia juga menyoroti sikap arogan Megawati mengatakan, siapapun yang berniat mengganggu Jokowi-JK akan berhadapan dengan pasukannya sambil mengatakan pasukannya adalah anak-anak nakal yang mencintai Indonesia

”Ini sikap arogans seolah bisa mengatasi semua persoalan di negeri ini, padahal yang harus diluruskan agar kita saling harga menghargai, bukan dengan megatakan kalau ada yang ganggu hadapi pasukan saya. Jangan lupa orang lain juga punya pasukan, apa dia mau menghadap-hadapkan anak bangsa sendiri. Harusnya kita memelihara sifat tawardhu dan rendah hati. Rakyat Indonesia mencintai Indonesia dan bukan hanya pasukan Megawati saja,” tandasnya.

Sebelumnya dalam pidatonya, Megawati mengatakan ada ideologi tertutup yang merusak tatanah keindonesiaan. Dia pun mengatakan banyak yang menyampaikan ramalan tentang apa yang akan terjadi di masa datang padahal mereka sendiri belum pernah melihat masa depan.

Hal ini dimaknai oleh banyak orang sebagai penghinaan karena yang dimaksud sebagai ramalah adalah firman dala Al Quran.